Niat baik rupanya bisa bernilai kurang baik di mata Allah SWT. Salah satu kisah Nabi Ibrahim As saat berbuat baik kepada kaum Ma...

Kisah Nabi Ibrahim yang Ditegur Allah SWT karena Tak Mau Memberi Makan Orang Kafir

By | 16.55 Leave a Comment


Niat baik rupanya bisa bernilai kurang baik di mata Allah SWT. Salah satu kisah Nabi Ibrahim As saat berbuat baik kepada kaum Majusi ini bisa jadi contoh.

Sedangkan kisah tentang teguran Allah kepada Nabi Ibrahim di atas ada dalam Kitab ar-Risalatul Qusyairiyah halaman 199.

Ceritanya, Nabi Ibrahim memang dikenal sebagai orang yang berdakwah dengan cara memberi makan secara cuma-cuma kepada orang lain.

Hanya saja, sebelum diberikan makan, Nabi Ibrahim selalu mematok syarat kepada orang yang diberikan kepada orang itu. Kebetulan, kasus itu terjadi kepada salah seorang kaum Majusi.

“Apakah kamu menyembah Allah?,” tanya Nabi Ibrahim kepada setiap orang yang ingin mengambil bantuan makanan darinya.

Kalau orang itu menjawab iya, maka makanan itu menjadi miliknya. Tapi kalau tidak, maka orang itu harus mengelus dada.

Naas, salah satu kaum kafir Majusi itu enggan menerima syarat Nabi Ibrahim dan memilih pergi tidak menerima makanan tersebut.

Setelah kejadian itu, Nabi Ibrahim ditegur oleh Allah SWT.

“Selama 50 tahun dia kafir, namun Aku tetap memberinya makan. Bagaimana kau (Ibrahim) bisa memberinya sesuap makanan, namun menuntunya macam-macam?,” tegur Allah SWT kepada Nabi Ibrahim.

Mendapat teguran, Nabi Ibrahim langsung mengejar kaum Majusi itu, lalu memberikan makanan yang sempat diminta. Kaum Majusi itu begitu kaget, mengapa tiba-tiba Nabi Ibrahim langsung berubah pikiran.

Nabi Ibrahim pun menjelaskan teguran Allah SWT kepadanya.

“Maaf. Tadi saya khilaf. Allah memberi tahuku untuk memberi makan siapapun tanpa pandang apapun yang disembah,” jelas Nabi Ibrahim.

Dan alhamdulillah, kaum majusi itu sekaligus diberi hidayah Allah SWT.

“Benar begitukah? Betapa baiknya Tuhanmu. Jika benar begitu. Beri tahu aku siapa Tuhanmu dan bagaimana cara untuk menyembahnya,” kata orang Majusi dengan rendah hati.

Kisah tentang kebiasaan Nabi Ibrahim menjamu tamu-tamunya terdapat dalam Alquran surat al-Dzariyat ayat 24-27.

Secara tidak langsung kisah ini memberi teladan kepada kita untuk berbuat baik kepada siapapun. Tanpa pandang agamanya atau bahkan perilakunya.

Hal ini membuktikan bahwa Allah tidak pandang bulu dalam memberikan rizki. Allah juga menegur Ibrahim walaupun ia kekasih-Nya. Karena bagaimanapun juga ada tindakan Nabi Ibrahim yang harus diluruskan meskipun itu bukan dosa.

Pelajaran yang dapat diambil adalah bahwa dalam urusan sosial dan kemanusiaan sesama manusia, kita perlu bersikap adil. Kita tidak boleh tebang pilih berdasar agamanya maupun sukunya. Justru dengan sikap dan kebaikan itu, orang di luar Islam menjadi tertarik mengenal Islam dan menjadi perantara datangnya hidayah-Nya.

Hal kedua yang tak kalah penting adalah berani mengakui kesalahan diri sendiri walaupun itu memalukan. Tidak mudah mengakui kekurangan diri sendiri. Namun Nabi Ibrahim menanggalkan itu semua dan berkata sejujurnya. (*)

Wallahu a’lam.

Posting Lama Beranda

0 komentar:

Ayo Komen dan Diskusi